Analisalah berita ini kegiatan ekonomi ini dengan metode
enam topi berpikir!
Fenomena Sawit dan Kabut Asap di Kalimantan Barat
Wilayah Kalimantan Barat terdiri dari 65% hutan tropis. Kawasan hutan ini menyimpan 1.216 jenis flora, antara lain anggrek hutan, pinang merah dan berbagai tanaman hias, serta beberapa fauna terkenal dan dilindungi, antara lain orang utan, kukang, bekantan, rusa, burung enggang, beruang madu, dan banyak lagi.
Namun tak lama lagi keanekaragaman hayati dan kekayaan sumber daya alam
Kalimantan Barat akan punah oleh berbagai kebijakan yang mengeksploitasi sumber
daya alam secara destruktif.
Manfaat perkebunan kelapa sawit
Manfaat
pembuatan kebun kelapa sawit setidaknya dapat ditinjau dari aspek sebagi
berikut.
Aspek
ekonomi
1. Menjadi sumber
mata pencaharian baru dari sumber daya alam yang dapat diperbarui .
2. Meningkatkan
pendapatan masyarakat melalui bisnis di bidang perkebunan
3. Memenuhi
kebutuhan bahan baku industri baik industri dalam negeri maupun luar negeri
Aspek
sosial
1. Menambah jumlah
kesempatan kerja sehingga mengurangi jumlah pengangguran
2. Mengurangi
dampak urbanisasi dari desa ke kota karena terbatasnya peluang kerja
3. Berkurangnya
penyakit sosial ( pencurian, premanisme,dll ) karena masyarakat sudah punya
pekerjaan dan mampu berpenghasilan
Kebijakan Pemerintah tentang kelapa sawit
Arah kebijakan pembangunan kebun kelapa sawit di Kalimantan Barat mengadopsi arah kebijakan dari program pusat, yaitu pengembangan agrobisnis kebun, pengembangan sistem informasi dan pemberdayaan kelembagaan perkebunan. Dinas Perkebunan Kalimantan Barat juga merencanakan ekspansi perkebunan sawit secara besar-besaran.
Bila terealisasi perkebunan kelapa sawit ini akan menjadi kebun sawit terluas di dunia (Jakarta Post, 18 Juli 2005). Untuk merealisasikan rencana tersebut pemerintah telah menandatangani MoU antara pengusaha Indonesia dengan pengusaha China pada saat kunjungan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke China.
Penolakan Masyarakat
Hanya saja, kebijakan pemerintah dalam investasi kelapa sawit di Kalimantan Barat mendapat penolakan dari berbagai kalangan terutama LSM. Menurut mereka, sawit merupakan tanaman yang merusak lingkungan (mengganggu ekosistem); rakus air, menyebabkan pendangkalan di sungai dan menurunkan produktivitas tanah. Sementara itu kesejahteraan hanya dinikmati oleh karyawan dan pengusahanya saja. Selain itu dikemukakan ada indikasi pembukaan kelapa sawit hanya ulah investor untuk memperoleh kayu di hutan dan kebun sawit tidak sesuai ditanam di Kalimantan (Kompas, 25 & 26 Januari 2006).
Secara politis, perkebunan kelapa sawit menghilangkan keberadaan masyarakat adat terutama masyarakat Dayak karena pembukaan perkebunan kelapa sawit selalu disertai masuknya transmigran dan karyawan perusahaan yang mayoritas didatangkan dari luar Kalimantan Barat. Misalnya, pemerintah selalu menyediakan sekolah, sarana pengobatan, jalan raya, rumah ibadah dan prasarana sosial lainnya di lokasi perkebunan kelapa sawit. Sedangkan di kampung-kampung Dayak tidak dibangun prasarana sosial seperti itu karena komunitasnya lebih sedikit dibandingkan transmigran.
Fenomena Kabut Asap
Kebakaran hutan dan lahan hampir setiap tahun terjadi di Indonesia terutama di wilayah Provinsi Kalimantan Barat. Tahun 1997-1998, kebakaran hutan dan lahan menjadi bencana nasional.
Sejauh ini penyebab kebakaran lahan dan hutan adalah pembukaan lahan dengan cara membakar. Kebakaran itu bisa terjadi karena tindakan disengaja ataupun tidak disengaja baik oleh petani, pemburu, penebang kayu, perusahaan perkebunan. Sementara itu, sering kali pula perusahaan melakukan kecurangan. Guna meraih untung besar mereka membuka lahan dengan cara membakar.
Hanya saja, kebijakan pemerintah dalam investasi kelapa sawit di Kalimantan Barat mendapat penolakan dari berbagai kalangan terutama LSM. Menurut mereka, sawit merupakan tanaman yang merusak lingkungan (mengganggu ekosistem); rakus air, menyebabkan pendangkalan di sungai dan menurunkan produktivitas tanah. Sementara itu kesejahteraan hanya dinikmati oleh karyawan dan pengusahanya saja. Selain itu dikemukakan ada indikasi pembukaan kelapa sawit hanya ulah investor untuk memperoleh kayu di hutan dan kebun sawit tidak sesuai ditanam di Kalimantan (Kompas, 25 & 26 Januari 2006).
Secara politis, perkebunan kelapa sawit menghilangkan keberadaan masyarakat adat terutama masyarakat Dayak karena pembukaan perkebunan kelapa sawit selalu disertai masuknya transmigran dan karyawan perusahaan yang mayoritas didatangkan dari luar Kalimantan Barat. Misalnya, pemerintah selalu menyediakan sekolah, sarana pengobatan, jalan raya, rumah ibadah dan prasarana sosial lainnya di lokasi perkebunan kelapa sawit. Sedangkan di kampung-kampung Dayak tidak dibangun prasarana sosial seperti itu karena komunitasnya lebih sedikit dibandingkan transmigran.
Fenomena Kabut Asap
Kebakaran hutan dan lahan hampir setiap tahun terjadi di Indonesia terutama di wilayah Provinsi Kalimantan Barat. Tahun 1997-1998, kebakaran hutan dan lahan menjadi bencana nasional.
Sejauh ini penyebab kebakaran lahan dan hutan adalah pembukaan lahan dengan cara membakar. Kebakaran itu bisa terjadi karena tindakan disengaja ataupun tidak disengaja baik oleh petani, pemburu, penebang kayu, perusahaan perkebunan. Sementara itu, sering kali pula perusahaan melakukan kecurangan. Guna meraih untung besar mereka membuka lahan dengan cara membakar.
Uraian di atas adalah gambaran kecil
dari sebuah bingkai besar tentang potret Provinsi Kalimantan Barat yang
terancam ekosistemnya, yang setiap tahun panen bencana asap akibat ulah
perkebunan berskala besar.
Janthing, Pangau
Janthing, Pangau
Dikutip dari www.kalimantanreview.com dengan
pengubahan
Sumber:
·
http://www.investasikelapasawit.com/investasi-kebun-sawit/
No comments:
Post a Comment